STKIP Adzkia
STKIP Adzkia Jl. Taratak Paneh No. 7, Korong Gadang, Kuranji, Kalumbuk, Padang, Kota Padang, Sumatera Barat 25175

Indahnya Perjalanan Bersama Al Quran


Oleh Fauziah, S.Ag., S.Pd., M.Pd., Kons. (Dosen STKIP Adzkia)

Surprise rasanya dapat pesan di WA untuk berbagi pengalaman tentang indahnya perjalanan bersama Al Qur’an. Bahagia tentunya... Tapi usai menuliskan kisah timbul ragu untuk menshare-kannya, takut seandainya nanti ada yang kurang berkenan tapi kembali ke niat awal untuk berbagi dan keyakinan sesuatu yang datang dari hati akan sampai ke hati juga.

Kuawali saja dari sejarah masuknya aku di Adzkia, berhubung yang mintanya ustadzah kita (Ustadzah Riri yang sholehah...Aamiin Ya Rabb). Satu hal lagi karena ada yang berkesan sekali di memoriku. Begini, ketika teman-temanku tahu kalau aku memasukkan lamaran ke STKIP Adzkia dan aku diterima banyaklah komentar yang keluar, komentar ucapan selamat mah biasa, ucapan do’a sedikit luar biasa, yang luar biasa sekali ketika ada teman-teman bilang : “Uni, hati-hati ntar di Adzkia itu kalau uni ndak begini... ndak begitu... maka uni akan dikeluarkan, ada lho temanku yang punya pengalaman begitu and bla...bla...bla”. Ada juga yang bilang : “cieee.... taubat yaaa”. He he he.

Singkat cerita akhirnya aku ngajar di STKIP Adzkia, seperti kata motivatorku waktu outbound kuliah PPK dulu, hidup itu tidak akan mulus melulu, akan ada “dribel-dribel unik” menyertainya dan akupun merasakan itu, suatu waktu akhirnya aku sampai pada keinginan untuk “finish” saja, karena rasanya udah nggak kuat lagi, tapi suami dan keluarga besar menguatkan untuk tetap bertahan karena mereka melihat ada hal-hal baik yang aku dapatkan dan menurut mereka lebih pantas untuk aku pertahankan dibanding apa yang membuat ku berniat mengakhirinya, diantaranya shalat berjamaah terus terjaga di hari kerja, tallaqi, liqo, cara bergaul antara laki-laki dan perempuan, cara berpakaian. Ya, inilah beberapa hal yang paling sering aku ceritakan di rumah. Artinya kegiatan yang aku ikuti di Adzkia klik dengan di rumah dan pengajian yang ku ikuti.

Ada hari-hari berat yang harus kulewati, tapi saat tallaqi apalagi dulu kelasnya aku paling sering berdua saja dengan ustadzah, benar-benar menjadi pengalaman berharga. Ustadzahnya ramah, sabar, trus karena aku harus ngaji lagi dari iqra, lucu juga rasanya, tapi karena sudah niat mau belajar disebabkan aku tidak bisa seperti teman-teman pengajianku (pengajian Adhuha Masjid Baitul Makmur), yang banyak punya kesempatan ngaji tahsin di Siteba bersama pengajian Ustadz Afdhal dan di Darel Iman. Mereka sering cerita kalau mereka ngulang lagi ngajinya dari awal untuk memperbaiki bacaan dan tajwid. Luar biasa dampaknya, bacaanku yang selama ini dirasakan sudah oke jadi belum tuntas semua (hu...hu...hu...). Beruntung sekali ustadzahnya mau ngajarin dan sangat pengertian (barangkali karena latar belakang pendidikan beliau ya...). Selesai mengaji kami sering cerita apa saja, akupun banyak belajar dari jawaban-jawaban yang beliau berikan dan itu menguatkanku untuk bertahan dan fokus dengan tujuan awal aku bekerja. Intinya ketika aku belajar Al Qur’an artinya aku semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan apapun masalahku Allah SWT yang akan bantu mencari jalan keluarnya. (Jujur hal inipun sebenarnya sudah lama kudapatkan...tapi di pengajian dan tallaqi itu dikuatkan lagi)

Ketika di pengajian aku belajar, bahwa teman yang paling baik itu adalah seperti dikatakan dalam surat An Nisa (4) ayat 69: “Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, Para Pecinta Kebenaran, orang-orang yang mati Syahid, dan orang-orang shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”, serta surat At Taubah (9) ayat 16: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja) padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Menurutku teman-teman yang shaleh itu akhirnya bisa kudapatkan, mereka yang menerimaku apa adanya, mendorongku untuk istiqomah, mengingatkanku untuk tidak lalai melaksanakan perintah Allah SWT, menghargai keberadaanku, menghargai kelebihanku dan menerima kekuranganku serta tidak mengabaikan perhatianku. Aku sering memberikan kiriman WA tallaqi pada keluarga dan teman-teman pengajianku, merekapun senang, pembelajarannya luar biasa, yang menarik adalah ketika tegasnya admin (Ustadzah Riri) yang melarang membagikan hal-hal di luar yang berkenaan dengan Al Quran, kalau tidak salah ada kejadian salah kirim fotho, ketegasan admin terlihat sangat jelas agar anggota group yang berkomentar untuk meminta maaf, lalu keluarlah permintaan maaf dari anggota yang merasa bersalah telah melontarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh admin. Boleh dikata pembicaraan di group sangat memotivasi.

Perasaanku campur aduk ketika membaca kiriman di WA tallaqi, kadang sedih, bahagia, kadang termotivasi untuk membaca Al Quran setiap hari, mempelajarinya dalam majelis ilmu, mendalami tafsirnya, lalu berusaha mempertanyakan pada diri sejauh mana mampu melaksanakannya. Duch bagian terakhir ini sering “menamparku di siang bolong” dengan teriakan “Halllow.... udah berapa umur lo...masih belum mau berubah...”. “Emang ada yang jamin hidup lo selamanya...”. Subhanallah...akupun terjaga apalagi saat-saat berjamaah bersama di masjid Adzkia bareng anak-anak, remaja-remaja Islam dan ust/ustz yang lain. Nasehat menjelang shalat dan setelah shalat adalah nasehat yang kusuka sehingga akan rugi rasanya masuk kerja tapi tidak berjamaah. Pesan-pesannya, nasehatnya, peraturannya mendidikku secara tidak langsung dan kucobakan pada diri sendiri serta keluarga tentunya. Lambat laun aku menikmati perjalanan ini, kalau ada rasa tidak dihargai, diabaikan, aku kembalikan lagi kepada apa yang kudapatkan dari Al Qur’an yang kupelajari, sehingga akhirnya akupun belajar ikhlas.

Kegiatan tallaqi membuat hafalanku juga bertambah, lagi-lagi suamiku sangat senang lihat perkembangan hafalanku walaupun kadang satu minggu itu hanya setor dua ayat, kadang tidak ada sama sekali, kadang izin berkepanjangan, kadang aku kesal karena nggak hafal-hafal juga, jawaban ustadzahnya menakjubkan: “Kata ustadz saya, itu tandanya Allah ingin uni berlama-lama bermesraan dengan ayat itu...”. Duch jawabannya langsung ke hati... (buatku meleleh) menyadarkan “tidur panjangku” selama ini. Kadang aku masuk ke group CS rasanya wooou... Akupun dapat motivasi yang berbeda, apalagi sering bertemu dengan Buk Sur yang dapat hadiah umrah karena hafalannya. (Barakallah...)

Subhanallah, akupun lambat laun belajar hijrah. Aih... hijrah itu berat nian ternyata...tapi nikmat ketika mampu menaklukkannya dan akhirnya aku bisa berpikir seperti pola pikir suamiku bahwa Adzkia itu tidak “selebar daun kelor” masih banyak kegiatan, aktivitas dan sahabat yang bisa membantuku menjadi lebih baik. Sekarang lebih kurang enam bulan di rumah aku dan keluarga kecilku merobah pola mengaji selepas maghrib, yang biasanya sendiri-sendiri kecuali buat si bontot, dirubah seperti liqo’ duduk bersama, baca bergantian masing-masing setengah halaman lalu baca terjemahannya dan hadits pendukungnya. Dampaknya luar biasa karena kami saling mengkoreksi bacaan dan mendengarkan terjemahannya. Sekalipun belum sempurna. Habis itu saling bercerita tentang aktivitas kami sepanjang pagi sampai sore. Semoga kami tetap istiqomah dalam hal ini...Aamiin Ya Mujib.

Sekalipun aku sering kali bolong datang untuk tallaqi aku tidak akan mengkhianati kalau tallaqi adalah salah satu bagian dari perjalanan hidupku yang mengantarku merasakan indahnya perjalanan bersama Al Qur’an. Trimakasih banyak Ustazah Riri...Moga Ustazah senantiasa diberkahi Allah SWT...Aamiin Ya Rahim...nanti kalo Ustazah tidak liat uni di Sorga tolong bilang ya sama Allah SWT kalo uni pernah belajar di tallaqi kita...Trimakasih banyak juga untuk Yayasan Adzkia Sumatera Barat, program Al Qur’annya luar biasa!

Berita Terbaru



STKIP Adzkia Serahka ...

STKIP Adzkia Serahkan Proposal Pusat Karir

Monday, 02/04/2018 17:39:56


Jakarta - Senin (26/3) STKIP Adzkia menyerahkan proposal pusat karir ke Direktorat Kemahasiswaan
Kasubdit Penyelarasan Kebutuhan Kerj ...


Pelaksanaan PPL Maha ...

Pelaksanaan PPL Mahasiswa PGSD STKIP Adzkia 2018

Friday, 09/02/2018 16:43:44

Wakil Ketua I STKIP Adzkia, Hendrizal, memberikan sambutan saat pembukaan acara sosialisasi Pelaksanaan PPL Mahasiswa PGSD tahun 2018, Jumat (9 ...

×